Mengenal Diri Sendiri Sebelum Mengenal Tuhan

Judul Asli : Menegenal Diri
Penulis : Ripto Ajah

Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya….
Awalun muminin ma’rifatulloh

Pertama kali seseorang ingin tergolong sebagai orang mu’min (beriman) yaitu dia harus mengenal Alloh Tuhannya.. (ma’rifattulloh). Untuk bisa mengenal Alloh kita harus kenal dengan diri kita terlebih dahulu..

Yang dimaksud mengenal diri kita tentu banyak sekali persepsinya… misal dulu waktu penulis belajar pada salah seorang ulama di daerah jawa tengah agak sedikit berbeda… pada saat itu dijelaskan kalau kita sudah kenal saudara kembar kita (istilah saat itu sejatineng diri), dia akan bisa keluar setiap saat mewujud dan bisa berdialog/berkomunikasi dengan kita yg asli…. Dan sampai sekarang pun penulis belum pernah mencapai tingkatan seperti itu..

Hanya saja setelah bergabung dg at-tadzkir akhirnya penulis mendapatkan wawasan yg sangat jauh berbeda dan masuk dalam akal / logika kita..

Mengenal Diri berarti mengenal siapa kita ? dari mana kita ? mau kemana kita ? kenapa kita dihidupkan ? untuk apa hidup ? mau kemana hidup ?

Mengenal diri juga berarti mengenal apa aja yg ada dalam diri kita.. dimulai dari mengenal betul secara fisik (lahir) tentang kelebihan dan kekurangan fisik kita, mengenal betul semua anggota tubuh kita sendiri dan akan kita gunakan untuk apa anggota tubuh kita ? Siapa yang menciptakan tubuh kita yg begitu sempurna ?

Mengenal diri kita secara bathin… yaitu hati kita, rasa kita, jiwa kita….

Mengenal secara fisik sangat perlu untuk kita, karena dengan mengenal secara fisik kita bisa menjaga amanah dari Allah Sang Pencipta.. Setelah mengenal fisik kita tentu kita akan mengetahui kelebihan dan kekurangn fisik kita.. kelebihan wajib kita syukuri tidak untuk disombongkan.. kekurangan tidak perlu disesali tapi tetap harus kita syukuri… kekurangan fisik kita selagi bisa kita maksimalkan untuk mengupayakan agar bisa lebih baik itu juga tanda kita syukur kepada Sang Pencipta… Misal kita diberi badan agak kurus.. berarti cara bersyukurnya kita tetap menerima keadaan fisik kita yg kurus, menjaganya agar tetap Vit dan sehat.. Makan-makanan yg bergizi, istirahat yg cukup, olahraga bila perlu minum obat atau jamu yg bisa menjaga stamina tubuh kita.. Dengan stamina yg prima tentunya kita bisa beribadah kepada Tuhan kita baik beribadah hablumminannas maupun hablumminalloh.. Tentunya dengan kita gunakan tubuh kita untuk hal yang baik-baik yakin tubuh kita juga akan semakin baik.. setelah kita mengenal kekuatan tubuh kita sendiri maka kita akan bisa memaksimalkan ibadah kita.. demikian juga dengan kelebihan dan kekurangan fisik kita yang lain. Tapi perlu digarisbawahi bahwa dalam menutup kekurangan fisik kita tidak boleh memaksakan diri. Memaksimalkan diri dengan memaksakan diri sangat berbeda sekali.. Contoh kita mempunyai hidung yang kurang mancung atau agak pesek. Untuk memaksimalkan bisa dilatih dengan tiap hari memencet dan menarik hidung kita sesering mungkin, dalam waktu yang panjang yakin hidung kita akan bertambah mancung sedikit demi sedikit. (sebagai contoh anak yang pesek tapi ingusan dari kecil sampai besar yakin besarnya akan lebih mancung karena setiap saat dia harus membuang ingus dihidungnya). Tapi orang yang memaksakan diri untuk mancung akan menggunakan jalan pintas dengan operasi plastik atau suntik silicon pasti akan tidak wajar alias mengagetkan perubahannya. Demikian juga dengan kekurangan fisik kita yang lainnya. Perlu adanya ketekunan.

Dengan mengenal fisik kita sehingga kita bisa bersyukur kepada Sang Pencipta berarti kita bisa menjadi orang yang tahu diri karena dikasih sama Tuhan kita berterimaksih kepadaNya.

Mengenal diri kita secara bathin.. kita berusaha mengenal hati kita.

Hati segumpal daging/darah yang ada dalam tubuh kita yang bisa mempengaruhi dan mengendalikan tubuh kita, kalau hati kita baik maka baik pula perbuatannya tapi kalau hatinya kotor maka kotor pula perbuatan kita.. Didalam hati ada dua ruang atau dua sisi atau dua wadah. Yang pertama wadah kebaikan biasa disebut dengan QOLBUN SALIM yang di dalamnya ada NUR ILAHI, ada Cahaya Kebenaran, Cahaya Ketenangan (Nafsul Mutmainah) dan dikendalikan oleh para malaikatnya Alloh dan biasa disebut dengan hati yang paling dalam atau hati NURANI. Disisi lain ada Nafsu Jahat yang akan dikendalikan oleh sang Iblis yaitu nafsu untuk kejahatan yang biasanya akan menjadi penyakit dalam hati kita seperti : nafsu amarah, iri, dengki, sombong, ujub, takabur, ria dll..

Karena dua sisi yang berbeda itulah makanya dalam setiap diri manusia akan ada peperangan antara kebaikan dan kejahatan.. Di sinilah tugas manusia didunia untuk memilih salah satu diantara keduanya.. Pilihan itu tidak gampang karena iblis tidak akan tinggal diam, karena iblis tidak akan rela dan akan selalu berbisik-bisik didalam hati manusia (Q.S. An-Nas). Sisi mana yang akan kita hidupkan ? tentunya sisi yang baik, sisi yang diwarnai dengan kebersihan, kesejukan, ketenangan, kelembutan, kebenaran, keadilan dan kedamaian.

Kita tidak akan sanggup melawan kebathilan tanpa berlindung kepada yang punya kebenaran ALLAH SWT. Kenalkan hati kita kepada yang menguasai kehidupan, kenalkan hati kita dengan yang bisa membolak balikkan hati, kenalkan hati kita dengan yang MAHA segala-galanya.

Ibarat tubuh kita sebuah mobil ada supir utama yang dapat sim dan mandat resmi dari sang majikan tapi ada supir tembak yang tidak mendapat mandat dari sang majikan tapi sering mengambil alih kemudi kita. Supir tembak biasanya akan membawa mobil dengan seenaknya sendiri tanpa memperdulikan peraturan maupun rambu-rambu yang ada, karena ia tidak akan diminta pertanggungjawaban oleh sang majikan. Pada saat kita sedang dalam keadaan tenang tahu2 kemudi tubuh kita direbut sang amarah maka meledaklah kita dalam amarah yang tidak terkendali hanya oleh masalah yang sepele (bahkan ada yang sampai menyakiti dan bahkan membunuh orang lain hanya masalah yang kecil)…. terkadang kemudi kita direbut oleh sang iri sehingga hati kita merasa teriris-iris manakala ada orang lain lebih baik dari kita.. Terkadang kita merasa paling benar, merasa paling hebat, merasa paling banyak ibadahnya, merasa paling bijak, merasa paling baik manakala kesombongan telah menguasai diri kita bahkan sangkin latifnya si sombong dalam menguasai diri kita dalam keadaan penuh kesombongan dan takabur. Terkadang pula kita tidak sadar dan ingin memberitahukan kebaikan dan amal ibadah kita kepada orang lain baik secara terang-terangan atapun terselubung sesungguhnya kita sudah terperosok kedalam sumur ria…

Gambaran diatas hanyalah sedikit teori mengenal diri, yang jadi pertanyaan kita semua bagamana cara untuk bisa mengenal diri ?

Untuk bisa mengenal diri kita wajib instrospeksi diri, wajib mengkaji diri.. luangkan sedikit waktu kita untuk merenungi diri ? Apa yang sudah kita lakukan hari ini ? berapa banyak kesalahan dan kekurangan kita hari ini ? berapa banyak kita memuji dan menolong orang lain ? bila perlu bikin tabel kebaikan dan kejelekan prilaku kita ? Kurangi mengoreksi dan mengomentari orang lain, komentari dan koreksilah diri kita sendiri.. Terkadang kita sibuk memikirkan dan mencari kesalahan orang lain padahal kesalahan dan kekurangan kita sendiri sangat banyak tapi tidak pernah kita pikirkan. Ibarat pepatah Gajah dipelupuk mata tidak kelihatan tapi kuman diseberang lautan tampak jelas.

Setelah instrospeksi dan mengkaji diri tahap berikutnya mengevaluasi kekurangan dan kelemahan dalam diri kita… Kita kurang dalam ilmu dunia segeralah belajar dengan sungguh-sungguh.. Kita kurang dalam ilmu akherat, perbanyaklah dalam belajar ilmu akherat baik melalui buku-buku atau berguru kepada seorang ulama yang alim…. Kita kurang dan lemah dalam hal rohani dan bathin kita maka cepatlah kita mencari pembimbing yang memang mumpuni dalam hal itu..

Dengan mengevaluasi diri dari hari ke hari maka tiap hari kita akan melakukan perubahan ke aranh yang lebih baik… Kalau hari ini kita marah-marah besok kita akan mengurangi dan belajar mengendalikan emosi kita… Kalau hari ini kita lalui dengan hal-hal yang negative maka besok kita akan melakukan taubat dan menggantinya dengan hal-hal positif…. Hari ini kita memaki orang setelah malam merenung segera minta maaf dan mulailah belajar memuji orang lain…. Kalau hari ini banyak perbuatan kotor yang kita lakukan tentunya setelah merenung berjanji atau ikrar dalam diri akan merubahnya menjadi perbuatan yang bersih baik secara lahir amupun bathin.

Setiap hari sedikit demi sedikit kita menambal kekurangan kita baik dari tutur kata, tingkah laku, wawasan, pola pikir, adab kita kepada orang lain maupun adab kita kepada Tuhan kita…. Sedikit demi sedikit asal berkomitmen (beritikad) hari demi hari memprogram diri kita untuk lebih baik dan lebih baik lagi… Yang tadinya kita emosional dan pemarah besar sedikit demi sedikit kita berubah menjadi penuh kedamaian dan ketenangan.. Yang tadinya hati kita dipenuhi iri dan dengki sedikit demi sedikit kita rubah dan akhirnya mencapai rasa bahagia apabila melihat orang lain senang dan lebih baik dari kita… Yang tadinya kita pendendam tidak bisa memaafkan orang lain dan kita juga tidak pernah minta maaf ke orang lain, sedikit demi sedikit kita menjadi pemaaf dan menjadi orang yang pertama kali minta maaf kepada orang lain… Yang tadinya kita pelit bin medit bin bakhil sedikit demi sedikit kita berubah menjadi seorang yang dermawan dan lain sebagainya… Yang tadinya kita tidak pernah bertaubat, tidak pernah berdoa dan berserah diri kepada Alloh sedikit demi sedikit kita berubah menjadi orang yang berusaha bertaubat (mohon ampun kepada Allah) setiap saat.. Kita berusaha menjadi orang yang selalu melibatkan Allah dalam setiap urusan kita dengan penuh kepasrahan, penuh penghambaan dan doa dengan penuh pengharapan.. Yang tadinya kita orang yang tidak pernah berterimakasih setelah mengkaji diri sedikit demi sedikit menjadi orang yang pandai berterimakasih kepada orang lain ataupun kepada Allah…. Yang tadinya penuh dengan kekotoran hati dengan mengenal diri, kita akan menuju ke kebeningan hati. InsyaAlloh dengan berbekal kebersihan dan ketenangan jiwa, kebeningan hati maka kita akan bersatu/berjumpa dengan dengan yang Maha Suci… Amiin.

Dengan mengenal diri itulah kita akan tahu posisi kita sehingga kita bisa menempatkan/memposisikan diri kita secara benar baik dihadapan mahluk maupun dihadapan Tuhan sehingga kita akan menjadi orang yang tahu diri… Kita akan menjadi pribadi yang supel, diterima semua kalangan, dan kita akan menjadi pribadi yang bisa menjalin hubungan dengan tuhannya secara total dalam lahir maupun bathin… dan akhirnya diduniapun kita diakui keberadaannya oleh sesame, sehingga orang lain akan bilang bahwa sipulan memang orang yang tahu diri….. Wallohua’alam bissawab

 
 
 

» recent comments

  • haimin: betapa ilmu itu akan ter...
  • Muhlisin: Alhamdulillah...akhirnya...
  • Alfarizi: Assalamualaikum wr wb. ...

» archives

» meta